Lahan Warga Terkikis Akibat Aktivitas Ponton Batubara, Siti Roslina Menjerit Minta Keadilan

Batang Hari, gematrandingnews.com — Derita panjang dialami Siti Roslina (64), warga Kelurahan Pasar Muara Tembesi, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batang Hari, Jambi. Selama kurang lebih tiga tahun terakhir, lahan pribadi peninggalan almarhum suaminya mengalami abrasi parah yang diduga kuat akibat aktivitas ponton batubara di bantaran sungai Batang hari. Hingga kini, belum ada pertanggungjawaban jelas dari oknum pengurus maupun pengusaha ponton batubara, Rabu (17/12/2025).

Saat ditemui di kediamannya, Siti Roslina mengungkapkan kekecewaan dan kesedihan mendalam. Ia mengaku telah berulang kali mengadukan persoalan tersebut kepada pihak-pihak yang dianggap berwenang, namun tak satu pun membuahkan hasil.

“Sudah sering sayo mengadu soal tanah sayo ini. Tapi dak ado yang berani menggubris. Kemano lagi sayo nak mengadu? Sudah tiga tahun sayo menahan ati, sedih, iboh. Tanah peninggalan laki sayo runtuh, hampir separoh la ilang terbis,” ungkap Siti dengan suara bergetar.

Menurutnya, lahan yang sebelumnya seluas kurang lebih delapan tumbuk kini tinggal separuh akibat longsor dan abrasi yang terjadi secara bertahap. Aktivitas ponton batubara yang bersandar di sekitar lokasi disebut-sebut menjadi penyebab utama kerusakan tersebut.

Siti juga mengakui bahwa dirinya pernah menandatangani perjanjian kontrak pendirian Pos Pandu dengan pihak perusahaan ponton batubara di kantor kelurahan Pasar Muara Tembesi. Namun, ia menegaskan kontrak tersebut bukan kontrak penggunaan atau penguasaan tanah.

“Memang pernah ado kontrak Pos Pandu senilai Rp6 juta per tahun. Tapi itu kontrak pendirian pos, bukan kontrak tanah sayo. Itu pun masih ado sisa yang belum dibayarkan,” tegasnya.

Dengan mata berkaca-kaca, Siti menggambarkan penderitaan batinnya setiap kali memandang ponton batubara yang bersandar di dekat lahannya.

“Setiap memandang ponton itu, sayo ngeraso terzolimi. Orang lain menikmati keuntungan, sayo malah dapat kerugian. Tanah sayo yang dulu luas, sekarang tinggal separoh, abis runtuh,” katanya lirih.

Dalam keputusasaan, Siti mengaku hanya bisa berserah diri kepada Tuhan. Dari doa-doanya, ia merasa menemukan jalan keluar setelah dipertemukan dengan kerabatnya, Ismar, yang kemudian bersedia membantu memperjuangkan haknya.

“Alhamdulillah, Tuhan dengar doa sayo. Dipertemukan sayo dengan saudara sayo, Ismar. Beliau mau menanggapi dan membantu keluhan sayo. Tanpa paksaan dari siapa pun, kami buat surat kuasa untuk mengurus semuanya, diketahui juga oleh Pak Lurah,” jelasnya.

Di akhir keterangannya, Siti Roslina berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun ke lapangan untuk melihat langsung kondisi lahannya yang rusak parah. Ia juga meminta para pengusaha ponton batubara memiliki itikad baik dan bertanggung jawab atas dampak aktivitas usaha mereka.

“Sayo mohon kepada pemerintah dan instansi terkait, tolong bantu sayo. Turunlah ke lapangan, tengok tanah sayo yang sudah runtuh. Kepada pengusaha ponton batubara, dengarkanlah keluhan sayo dan cepat selesaikan masalah ini,” pungkasnya. (Red)

Exit mobile version